Panduan Lengkap Memahami Konsep Ijma dalam Pendidikan Islam

administrator


Pengertian Ijma adalah konsensus atau kesepakatan yang dicapai oleh para ulama ahli fiqih dalam suatu permasalahan hukum Islam. Dalam Islam, ijma merupakan salah satu sumber hukum yang menjadi landasan bagi penetapan hukum Islam, selain Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ijma memiliki banyak manfaat, di antaranya memperkuat hujjah hukum, menjaga kesatuan umat Islam, dan menjawab permasalahan hukum yang tidak ditemukan secara jelas dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Salah satu perkembangan penting dalam sejarah ijma adalah munculnya konsep ijma sahabat, yaitu konsensus yang disepakati oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW.

Dalam artikel ini, kita akan mengupas tuntas tentang pengertian ijma, syarat-syaratnya, jenis-jenisnya, serta peran pentingnya dalam penetapan hukum Islam. Mari kita simak bersama.

Pengertian Ijma

Dalam memahami pengertian ijma, terdapat beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan:

  • Sumber hukum Islam
  • Kesepakatan ulama
  • Masalah hukum
  • Huijjah hukum
  • Syarat dan rukun
  • Jenis dan bentuk
  • Sejarah dan perkembangan
  • Peran dalam penetapan hukum

Aspek-aspek ini saling terkait dan membentuk pemahaman yang komprehensif tentang ijma. Ijma merupakan sumber hukum Islam yang penting, karena menjadi landasan bagi penetapan hukum Islam selain Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ijma juga memperkuat hujjah hukum dan menjaga kesatuan umat Islam. Dalam sejarahnya, ijma telah mengalami perkembangan yang signifikan, terutama dengan munculnya konsep ijma sahabat. Dengan memahami aspek-aspek penting ini, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang pengertian ijma dan perannya dalam penetapan hukum Islam.

Sumber Hukum Islam

Dalam pengertian ijma, sumber hukum Islam memegang peranan penting. Ijma merupakan salah satu sumber hukum Islam yang menjadi rujukan dalam penetapan hukum Islam. Sumber hukum Islam yang dimaksud dalam ijma adalah dalil-dalil syar’i yang menjadi landasan penetapan hukum Islam, antara lain:

  • Al-Qur’an
    Al-Qur’an adalah sumber hukum Islam yang utama dan menjadi pedoman utama bagi umat Islam. Dalam ijma, Al-Qur’an menjadi dasar dan rujukan utama dalam menetapkan hukum Islam.
  • As-Sunnah
    As-Sunnah adalah segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW yang menjadi sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an. Dalam ijma, As-Sunnah menjadi landasan dan rujukan dalam menetapkan hukum Islam.
  • Ijma Sahabat
    Ijma sahabat adalah kesepakatan para sahabat Nabi Muhammad SAW dalam menetapkan hukum Islam. Dalam ijma, ijma sahabat menjadi salah satu sumber hukum Islam yang disepakati oleh para ulama.
  • Qiyas
    Qiyas adalah metode menetapkan hukum Islam dengan cara menganalogikan suatu permasalahan hukum dengan permasalahan hukum lain yang sudah ada ketentuannya di dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, atau ijma.

Dengan memahami sumber hukum Islam yang menjadi landasan ijma, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang kedudukan dan peran ijma dalam penetapan hukum Islam.

Kesepakatan Ulama

Dalam pengertian ijma, aspek kesepakatan ulama menjadi sangat penting. Kesepakatan ulama atau konsensus adalah salah satu syarat utama terbentuknya ijma. Kesepakatan ini tidak hanya menunjukkan kebulatan pendapat, tetapi juga merefleksikan kematangan pemikiran dan pemahaman mendalam terhadap dalil-dalil syar’i.

  • Kualitas Ulama

    Kesepakatan ulama yang dimaksud dalam ijma adalah kesepakatan ulama yang memiliki kualifikasi tertentu, seperti memiliki pengetahuan yang mendalam tentang Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya.

  • Bidang Kepakaran

    Kesepakatan ulama juga harus terjadi dalam bidang kepakaran mereka. Misalnya, jika ijma terjadi pada masalah hukum ibadah, maka kesepakatan tersebut harus datang dari para ulama yang ahli di bidang fiqih.

  • Jumlah Ulama

    Dalam ijma, tidak ada ketentuan pasti tentang jumlah ulama yang harus menyepakati suatu hukum. Namun, umumnya ijma terjadi ketika kesepakatan tersebut didukung oleh mayoritas ulama.

  • Waktu Kesepakatan

    Kesepakatan ulama dalam ijma harus terjadi pada satu waktu. Artinya, tidak diperbolehkan adanya perubahan pendapat atau perbedaan pendapat di kemudian hari.

Dengan memahami berbagai aspek kesepakatan ulama dalam ijma, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang syarat dan rukun terbentuknya ijma. Kesepakatan ulama menjadi penjamin kualitas dan kekuatan hukum yang dihasilkan dari ijma, sehingga dapat dijadikan sebagai landasan hukum Islam yang kokoh dan dapat dipertanggungjawabkan.

Masalah Hukum

Dalam pengertian ijma, masalah hukum memegang peranan penting. Masalah hukum merupakan persoalan hukum yang menjadi objek penetapan hukum melalui ijma. Masalah hukum yang dimaksud dalam ijma adalah persoalan hukum yang belum terdapat ketentuannya secara jelas di dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, atau qiyas. Berikut adalah beberapa aspek penting dari masalah hukum dalam pengertian ijma:

  • Sifat Masalah

    Masalah hukum yang menjadi objek ijma haruslah bersifat praktis dan aktual, bukan masalah teoretis atau spekulatif.

  • Jenis Masalah

    Masalah hukum yang menjadi objek ijma dapat berupa masalah hukum ibadah, muamalah, pidana, dan sebagainya.

  • Urgensi Masalah

    Masalah hukum yang menjadi objek ijma haruslah merupakan masalah yang mendesak dan memerlukan penyelesaian segera.

  • Dampak Masalah

    Masalah hukum yang menjadi objek ijma haruslah merupakan masalah yang berdampak luas bagi masyarakat dan memiliki implikasi hukum yang signifikan.

Dengan memahami berbagai aspek masalah hukum dalam pengertian ijma, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang ruang lingkup dan batasan ijma. Masalah hukum menjadi penentu arah dan fokus pembahasan ijma, sehingga dapat menghasilkan hukum Islam yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat.

Huijjah Hukum

Dalam pengertian ijma, hujjah hukum memegang peranan yang sangat penting. Huijah hukum adalah dalil atau argumen yang digunakan untuk mendukung dan memperkuat suatu hukum yang dihasilkan dari ijma. Huijah hukum menjadi landasan rasional dan justifikasi bagi penetapan suatu hukum melalui ijma.

Huijah hukum dalam ijma dapat bersumber dari berbagai dalil syar’i, seperti Al-Qur’an, As-Sunnah, qiyas, dan juga ijma itu sendiri. Dalam praktiknya, para ulama menggunakan berbagai metode untuk membangun hujjah hukum, seperti metode istinbat, takhrij, dan tarjih. Metode-metode ini digunakan untuk menggali dan menganalisis dalil-dalil syar’i guna memperoleh pemahaman yang komprehensif dan menghasilkan hukum yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Huijah hukum sangat penting dalam ijma karena berfungsi sebagai alat kontrol dan pengawasan terhadap proses penetapan hukum. Huijah hukum memastikan bahwa hukum yang dihasilkan dari ijma memiliki dasar yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i. Selain itu, hujjah hukum juga menjadi dasar bagi penerimaan dan pengamalan hukum tersebut oleh masyarakat Muslim.

Syarat dan Rukun

Dalam pengertian ijma, syarat dan rukun merupakan aspek penting yang menentukan keabsahan dan kekuatan hukum yang dihasilkan. Syarat dan rukun menjadi standar dan pedoman yang harus dipenuhi agar ijma dapat dianggap sah dan dapat dijadikan sebagai landasan hukum Islam.

  • Kesepakatan Ulama

    Syarat utama terbentuknya ijma adalah adanya kesepakatan di antara para ulama yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang memadai dalam bidang keilmuan yang terkait.

  • Masalah Hukum

    Ijma hanya dapat terjadi pada masalah hukum yang belum terdapat ketentuannya secara jelas di dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, atau qiyas.

  • Waktu Kesepakatan

    Kesepakatan ulama dalam ijma harus terjadi pada satu waktu tertentu, tidak diperbolehkan adanya perubahan pendapat atau perbedaan pendapat di kemudian hari.

  • Tidak Ada Penentangan

    Ijma tidak sah jika terdapat penentangan atau perbedaan pendapat dari ulama yang memiliki kualifikasi yang sama dalam bidang keilmuan yang terkait.

Syarat dan rukun ijma saling terkait dan membentuk sebuah kerangka kerja yang memastikan bahwa hukum yang dihasilkan dari ijma memiliki kualitas dan kekuatan hukum yang tinggi. Dengan memahami dan memenuhi syarat dan rukun ijma, para ulama dapat menghasilkan hukum Islam yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan dapat diterima oleh seluruh umat Muslim.

Jenis dan bentuk

Jenis dan bentuk ijma merupakan aspek penting dalam pengertian ijma. Jenis dan bentuk ijma mengklasifikasikan ijma berdasarkan kriteria tertentu, sehingga memudahkan pemahaman dan penerapannya dalam penetapan hukum Islam.

  • Ijma Shurat

    Ijma yang disepakati oleh seluruh ulama tanpa adanya perbedaan pendapat. Jenis ijma ini sangat kuat dan menjadi landasan hukum Islam yang kokoh.

  • Ijma Takhyr

    Ijma yang terjadi setelah adanya perbedaan pendapat di antara para ulama, kemudian perbedaan pendapat tersebut dicabut dan terjadi kesepakatan. Jenis ijma ini juga kuat dan menjadi landasan hukum Islam yang dapat diandalkan.

  • Ijma Ammi

    Ijma yang disepakati oleh mayoritas ulama, tetapi masih terdapat sebagian kecil ulama yang berbeda pendapat. Jenis ijma ini memiliki kekuatan hukum yang cukup kuat, namun tidak sekuat ijma shurat dan takhyr.

  • Ijma Sukuti

    Ijma yang terjadi ketika mayoritas ulama diam (tidak memberikan pendapat) terhadap suatu masalah hukum, sementara sebagian kecil ulama memberikan pendapat. Jenis ijma ini memiliki kekuatan hukum yang lebih lemah dibandingkan dengan jenis ijma lainnya.

Jenis dan bentuk ijma ini memberikan keragaman dan fleksibilitas dalam penetapan hukum Islam. Para ulama dapat menyesuaikan jenis ijma yang digunakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat, sehingga hukum Islam dapat diterapkan secara efektif dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Sejarah dan perkembangan

Sejarah dan perkembangan memainkan peran penting dalam pengertian ijma. Ijma merupakan produk dari proses pemikiran dan ijtihad para ulama sepanjang sejarah Islam. Pemahaman terhadap ijma tidak dapat dipisahkan dari konteks historis dan perkembangannya.

Pada masa awal Islam, ijma belum berkembang secara formal sebagai sumber hukum. Namun, seiring dengan berkembangnya pemikiran hukum Islam dan banyaknya persoalan hukum baru yang muncul, para ulama mulai menggunakan metode ijma untuk menetapkan hukum. Salah satu faktor pendorong perkembangan ijma adalah kebutuhan untuk mencari solusi hukum yang tidak ditemukan secara jelas dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Praktik ijma terus berkembang seiring dengan perkembangan mazhab-mazhab hukum Islam. Setiap mazhab memiliki ijma-ijma tersendiri yang menjadi landasan hukum bagi pengikutnya. Perkembangan ijma juga dipengaruhi oleh faktor sosial, politik, dan budaya, yang turut membentuk pemikiran hukum para ulama.

Memahami sejarah dan perkembangan ijma memberikan pemahaman yang komprehensif tentang konsep ijma dan perannya dalam penetapan hukum Islam. Dengan mengetahui konteks historisnya, kita dapat memahami bagaimana ijma berkembang dan digunakan oleh para ulama untuk menjawab tantangan hukum yang dihadapi umat Islam sepanjang sejarah.

Peran dalam penetapan hukum

Ijm memiliki peran yang sangat penting dalam penetapan hukum Islam. Ijm menjadi salah satu sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang digunakan untuk menetapkan hukum pada masalah-masalah yang tidak ditemukan ketentuannya secara jelas dalam kedua sumber hukum utama tersebut. Proses ijma dilakukan oleh para ulama yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang memadai, melalui diskusi dan pertukaran pendapat hingga tercapai kesepakatan bersama.

Peran ijma dalam penetapan hukum sangat krusial karena memberikan landasan hukum yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Hukum yang dihasilkan dari ijma merupakan hasil pemikiran kolektif para ulama yang telah mempertimbangkan berbagai aspek, baik dari sisi nash maupun dari sisi kemaslahatan umat. Oleh karena itu, hukum yang ditetapkan melalui ijma memiliki otoritas yang tinggi dan menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menjalankan kehidupan beragama dan bermasyarakat.

Sebagai contoh, dalam persoalan hukum waris, terdapat beberapa masalah yang tidak diatur secara eksplisit dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam kasus seperti ini, para ulama menggunakan metode ijma untuk menetapkan hukum waris yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan kemaslahatan umat. Hasil ijma dalam persoalan waris inilah yang menjadi landasan hukum bagi pembagian harta warisan bagi umat Islam hingga saat ini.

Pertanyaan Umum (FAQ) tentang Pengertian Ijma

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan umum beserta jawabannya terkait pengertian ijma:

Pertanyaan 1: Apa pengertian ijma?

Jawaban: Ijma adalah kesepakatan atau konsensus yang dicapai oleh para ulama ahli fiqih dalam suatu permasalahan hukum Islam. Ijma merupakan salah satu sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Pertanyaan 2: Siapa saja yang berhak untuk melakukan ijma?

Jawaban: Ijma dilakukan oleh para ulama yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang memadai dalam bidang ilmu fiqih.

Pertanyaan 3: Bagaimana proses ijma dilakukan?

Jawaban: Proses ijma dilakukan melalui diskusi dan pertukaran pendapat hingga tercapai kesepakatan bersama di antara para ulama.

Pertanyaan 4: Apa saja syarat terjadinya ijma?

Jawaban: Syarat terjadinya ijma antara lain adanya kesepakatan di antara para ulama, masalah hukum yang belum diatur secara jelas dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, kesepakatan terjadi pada satu waktu, dan tidak adanya penentangan dari ulama yang memiliki kualifikasi yang sama.

Pertanyaan 5: Apa saja jenis-jenis ijma?

Jawaban: Jenis-jenis ijma antara lain ijma shurat, ijma takhyr, ijma ammi, dan ijma sukuti.

Pertanyaan 6: Apa peran ijma dalam penetapan hukum Islam?

Jawaban: Ijma memiliki peran penting dalam penetapan hukum Islam, yaitu sebagai salah satu sumber hukum setelah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hukum yang dihasilkan melalui ijma memiliki otoritas yang tinggi dan menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menjalankan kehidupan beragama dan bermasyarakat.

Demikian beberapa pertanyaan umum terkait pengertian ijma. Pemahaman yang baik tentang ijma sangat penting bagi umat Islam untuk mengetahui bagaimana hukum Islam ditetapkan dan diamalkan.

Selanjutnya, kita akan membahas tentang sejarah dan perkembangan ijma dalam penetapan hukum Islam.

Tips Memahami Pengertian Ijma

Berikut adalah beberapa tips untuk memahami pengertian ijma dengan lebih baik:

Tip 1: Pelajari definisi dan konsep dasar ijma.

Tip 2: Kenali syarat dan rukun terjadinya ijma.

Tip 3: Pelajari jenis-jenis ijma dan perbedaannya.

Tip 4: Pahami sejarah dan perkembangan ijma dalam penetapan hukum Islam.

Tip 5: Ketahui peran ijma dalam penetapan hukum Islam dan otoritasnya.

Tip 6: Baca karya-karya ulama tentang ijma untuk memperdalam pemahaman.

Tip 7: Diskusikan tentang ijma dengan teman atau guru untuk memperluas wawasan.

Dengan memahami tips-tips ini, Anda dapat memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang pengertian ijma dan perannya dalam penetapan hukum Islam.

Pada bagian selanjutnya, kita akan membahas sejarah dan perkembangan ijma dalam penetapan hukum Islam.

Kesimpulan

Kesimpulannya, ijma merupakan sebuah konsep penting dalam penetapan hukum Islam. Ijma adalah kesepakatan para ulama ahli fiqih mengenai suatu permasalahan hukum Islam yang belum diatur secara jelas dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Terdapat berbagai syarat dan rukun yang harus dipenuhi agar ijma dapat dianggap sah dan mengikat. Selain itu, terdapat beberapa jenis ijma yang berbeda-beda kekuatan hukumnya.

Dalam sejarah perkembangan hukum Islam, ijma telah memainkan peran yang sangat penting. Ijma menjadi salah satu sumber hukum Islam yang otoritatif dan digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan hukum yang muncul seiring dengan perkembangan zaman. Melalui ijma, para ulama dapat merumuskan hukum-hukum baru yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan kebutuhan masyarakat.

Related Post