Mengenal Pengertian Passive Voice dalam Dunia Pendidikan

administrator


Pengertian Passive Voice yang Mudah dipahami

Passive voice adalah bentuk kalimat yang menyatakan bahwa subjek menerima tindakan dari kata kerja. Misalnya, dalam kalimat “Buku itu ditulis oleh John”, “Buku” adalah subjek yang menerima tindakan ditulis oleh “John”.

Penggunaan passive voice memiliki beberapa peran penting dalam tulisan, seperti: menonjolkan objek, menghindari menyebutkan pelaku, dan menjaga formalitas bahasa.

Pengertian Passive Voice

Aspek-aspek penting dalam memahami pengertian passive voice meliputi:

  • Bentuk kalimat
  • Subjek
  • Kata kerja
  • Pelaku
  • Objek
  • Fungsi
  • Contoh
  • Perbedaan dengan active voice

Dengan memahami aspek-aspek tersebut, kita dapat menggunakan passive voice secara efektif dalam tulisan. Misalnya, untuk menonjolkan objek, menghindari menyebutkan pelaku, atau menjaga formalitas bahasa.

Bentuk Kalimat

Bentuk kalimat merupakan salah satu aspek paling mendasar dalam memahami pengertian passive voice. Passive voice terbentuk ketika subjek kalimat menerima tindakan dari kata kerja, dan hal ini tercermin dalam bentuk kalimatnya.

Dalam kalimat aktif, subjek melakukan tindakan yang dinyatakan oleh kata kerja. Misalnya, “Andi membaca buku”. Sebaliknya, dalam kalimat pasif, subjek menerima tindakan yang dinyatakan oleh kata kerja. Misalnya, “Buku dibaca oleh Andi”.

Perubahan bentuk kalimat dari aktif ke pasif berdampak signifikan pada makna kalimat. Kalimat pasif lebih menekankan objek yang menerima tindakan, sementara kalimat aktif lebih menekankan pelaku yang melakukan tindakan. Pemahaman tentang bentuk kalimat sangat penting untuk menggunakan passive voice secara efektif dalam tulisan.

Subjek

Dalam pengertian passive voice, subjek merupakan bagian kalimat yang menunjukkan pihak yang dikenai atau menerima tindakan dari kata kerja. Subjek dalam kalimat pasif umumnya berupa objek dalam kalimat aktif.

  • Bentuk Subjek
    Subjek dalam kalimat pasif dapat berwujud benda, orang, atau konsep abstrak.
  • Posisi Subjek
    Dalam kalimat pasif, subjek biasanya diletakkan setelah kata kerja bantu (di-, ter-, atau ke-).
  • Fungsi Subjek
    Fungsi subjek dalam kalimat pasif adalah untuk menunjukkan objek yang menerima tindakan.
  • Contoh Subjek
    Contoh subjek dalam kalimat pasif: “Buku”, “Rumah”, “Mobil”, “Andi”, “Mereka”.

Pemahaman tentang subjek sangat penting dalam pengertian passive voice karena subjek merupakan salah satu penentu bentuk dan makna kalimat pasif. Dengan memahami subjek, kita dapat menggunakan passive voice secara efektif dan tepat dalam penulisan.

Kata Kerja

Dalam pengertian passive voice, kata kerja memegang peranan vital sebagai unsur yang menunjukkan tindakan atau kejadian yang dikenai atau diterima oleh subjek. Pemahaman mendalam tentang berbagai aspek kata kerja sangat penting untuk penggunaan passive voice yang efektif.

  • Jenis Kata Kerja
    Dalam passive voice, kata kerja yang digunakan umumnya berjenis kata kerja transitif, yaitu kata kerja yang membutuhkan objek langsung.
  • Bentuk Kata Kerja
    Bentuk kata kerja dalam passive voice ditandai dengan penggunaan kata kerja bantu “di-“, “ter-“, atau “ke-” yang diikuti oleh bentuk dasar kata kerja.
  • Contoh Kata Kerja
    Contoh kata kerja yang dapat digunakan dalam passive voice: “baca”, “tulis”, “makan”, “minum”, “lihat”.
  • Fungsi Kata Kerja
    Fungsi kata kerja dalam passive voice adalah untuk menyatakan tindakan atau kejadian yang diterima oleh subjek.

Dengan memahami berbagai aspek kata kerja yang telah dijelaskan, kita dapat menggunakan passive voice dengan tepat dan efektif dalam penulisan. Penggunaan passive voice yang tepat dapat membantu kita dalam menyampaikan pesan secara jelas dan sesuai konteks.

Pelaku

Dalam pengertian passive voice, pelaku merujuk pada pihak yang melakukan atau menyebabkan terjadinya tindakan yang dinyatakan oleh kata kerja. Meskipun tidak selalu disebutkan secara eksplisit, pelaku memiliki peran penting dalam memahami dan menggunakan passive voice secara efektif.

  • Identifikasi Pelaku
    Pelaku dapat berupa orang, benda, atau konsep abstrak yang dapat dikenali dari konteks kalimat.
  • Posisi Pelaku
    Dalam kalimat pasif, pelaku umumnya tidak disebutkan secara eksplisit, tetapi dapat diidentifikasi melalui penggunaan kata depan “oleh”.
  • Fungsi Pelaku
    Fungsi pelaku adalah untuk memberikan informasi tambahan tentang pihak yang bertanggung jawab atas tindakan yang dinyatakan oleh kata kerja.
  • Implikasi Pelaku
    Penggunaan atau penghilangan pelaku dalam kalimat pasif dapat memengaruhi makna dan penekanan kalimat.

Pemahaman tentang pelaku sangat penting dalam pengertian passive voice karena memungkinkan kita untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab atas tindakan, memberikan informasi tambahan, dan memahami nuansa makna kalimat pasif. Dengan mempertimbangkan aspek pelaku, kita dapat menggunakan passive voice secara tepat dan efektif dalam penulisan.

Objek

Dalam “pengertian passive voice”, objek memainkan peran penting sebagai unsur kalimat yang menunjukkan pihak atau benda yang dikenai atau menerima tindakan dari kata kerja. Objek merupakan komponen krusial dalam pembentukan kalimat pasif, di mana subjeknya menerima tindakan, bukan melakukan tindakan.

Penggunaan objek dalam “pengertian passive voice” memungkinkan kita untuk mengalihkan fokus kalimat dari pelaku tindakan (subjek aktif) ke pihak yang dikenai tindakan (objek). Hal ini memberikan fleksibilitas dalam penulisan, memungkinkan kita untuk menekankan aspek tertentu dari suatu peristiwa atau tindakan, atau untuk menghindari penyebutan pelaku secara eksplisit.

Dalam kehidupan nyata, objek dalam “pengertian passive voice” dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti benda (“Buku itu dibaca oleh Andi”), orang (“Anak itu diajar oleh gurunya”), atau konsep abstrak (“Masalah itu diselesaikan dengan baik”). Pemahaman tentang hubungan antara objek dan “pengertian passive voice” sangat penting dalam penulisan yang efektif, karena memungkinkan kita untuk menyampaikan informasi dengan jelas, ringkas, dan sesuai konteks.

Fungsi

Dalam “pengertian passive voice”, fungsi memainkan peran penting. Fungsi mengacu pada tujuan atau alasan penggunaan “passive voice” dalam sebuah kalimat atau konteks tertentu.

  • Menghilangkan pelaku
    “Passive voice” dapat digunakan untuk menghilangkan penyebutan pelaku tindakan, sehingga fokus kalimat beralih pada objek yang dikenai tindakan tersebut.
  • Menekankan objek
    Dengan menggunakan “passive voice”, kita dapat menekankan objek yang menerima tindakan, sehingga informasi tentang objek tersebut menjadi lebih menonjol.
  • Menjaga formalitas
    “Passive voice” sering digunakan dalam konteks formal, seperti dalam penulisan ilmiah atau dokumen resmi, untuk menjaga kesan netral dan objektif.
  • Menghindari tuduhan
    Dalam situasi tertentu, “passive voice” dapat digunakan untuk menghindari tuduhan atau menyalahkan seseorang secara langsung.

Pemahaman tentang fungsi “passive voice” sangat penting dalam penggunaan bahasa yang efektif. Dengan memahami tujuan dan alasan penggunaan “passive voice”, kita dapat memilih bentuk kalimat yang tepat sesuai dengan konteks dan tujuan penulisan.

Contoh

Dalam “pengertian passive voice”, contoh memegang peranan penting untuk memperjelas konsep dan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif. Contoh dapat berupa kalimat atau frasa yang menunjukkan penerapan “passive voice” dalam konteks yang sebenarnya.

  • Bentuk Kalimat
    Contoh “passive voice” dapat dilihat dari bentuk kalimatnya yang khas, yaitu penggunaan kata kerja bantu “di-“, “ter-“, atau “ke-” di awal kalimat, diikuti oleh bentuk dasar kata kerja.
  • Objek Ditonjolkan
    Contoh “passive voice” juga menunjukkan penonjolan objek yang dikenai tindakan, yang biasanya diletakkan di awal kalimat.
  • Pelaku Dihilangkan
    Dalam beberapa contoh “passive voice”, pelaku tindakan tidak disebutkan secara eksplisit, sehingga fokus kalimat beralih pada objek yang dikenai tindakan.

Dengan memahami berbagai contoh “passive voice”, kita dapat mengidentifikasi ciri-ciri dan penggunaannya dengan lebih mudah. Pemahaman yang baik tentang contoh-contoh ini akan membantu kita dalam menerapkan “passive voice” secara tepat dan efektif dalam penulisan.

Perbedaan dengan active voice

Dalam konteks “pengertian passive voice”, memahami perbedaannya dengan “active voice” sangat penting. “Active voice” merujuk pada bentuk kalimat yang menyatakan bahwa subjek melakukan tindakan yang dinyatakan oleh kata kerja, sedangkan “passive voice” menyatakan bahwa subjek menerima atau dikenai tindakan tersebut. Perbedaan mendasar antara keduanya memengaruhi struktur kalimat, penekanan informasi, dan implikasinya dalam penulisan.

  • Struktur Kalimat

    Dalam “active voice”, subjek diletakkan di awal kalimat, diikuti oleh kata kerja dan objek. Sedangkan dalam “passive voice”, subjek diletakkan setelah kata kerja bantu “di-“, “ter-“, atau “ke-” dan objek diletakkan di awal kalimat.

  • Penekanan Informasi

    “Active voice” menekankan pelaku tindakan (subjek), sedangkan “passive voice” menekankan objek yang dikenai tindakan.

  • Implikasi Penulisan

    “Active voice” umumnya digunakan untuk menyatakan tindakan yang jelas dan tegas, sedangkan “passive voice” sering digunakan untuk menghindari penyebutan pelaku tindakan, menjaga formalitas, atau menonjolkan objek yang dikenai tindakan.

Dengan memahami perbedaan-perbedaan ini, kita dapat memilih bentuk kalimat yang tepat sesuai dengan tujuan dan konteks penulisan, sehingga menghasilkan tulisan yang jelas, efektif, dan sesuai kaidah bahasa.

Pertanyaan Umum tentang Pengertian Passive Voice

Berikut adalah beberapa pertanyaan umum dan jawabannya untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang pengertian passive voice:

Pertanyaan 1: Apa itu passive voice?

Jawaban: Passive voice adalah bentuk kalimat yang menyatakan bahwa subjek menerima tindakan dari kata kerja, bukan melakukan tindakan tersebut.

Pertanyaan 2: Bagaimana cara membentuk passive voice?

Jawaban: Passive voice dibentuk dengan menggunakan kata kerja bantu “di-“, “ter-“, atau “ke-” yang diikuti oleh bentuk dasar kata kerja.

Pertanyaan 3: Mengapa passive voice digunakan?

Jawaban: Passive voice digunakan untuk berbagai tujuan, seperti menonjolkan objek, menghilangkan pelaku, menjaga formalitas, atau menghindari tuduhan.

Pertanyaan 4: Apa perbedaan antara passive voice dan active voice?

Jawaban: Passive voice menekankan objek yang dikenai tindakan, sedangkan active voice menekankan pelaku yang melakukan tindakan.

Pertanyaan 5: Kapan sebaiknya menggunakan passive voice?

Jawaban: Passive voice sebaiknya digunakan ketika objek yang dikenai tindakan lebih penting untuk ditekankan, atau ketika pelaku tindakan tidak diketahui atau tidak ingin disebutkan.

Pertanyaan 6: Apa saja kelemahan menggunakan passive voice?

Jawaban: Kelemahan menggunakan passive voice adalah dapat membuat kalimat menjadi lebih panjang dan kurang langsung, serta berpotensi menimbulkan ambiguitas jika pelaku tindakan tidak disebutkan.

Dengan memahami jawaban dari pertanyaan-pertanyaan umum ini, diharapkan pembaca dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang pengertian passive voice dan penggunaannya dalam penulisan yang efektif.

Selanjutnya, artikel ini akan membahas penggunaan passive voice dalam konteks penulisan yang berbeda, seperti penulisan akademis, jurnalistik, dan bisnis.

Tips Menggunakan Passive Voice Secara Efektif

Bagian ini akan memberikan beberapa tips untuk membantu Anda menggunakan passive voice secara efektif dalam tulisan Anda.

Tip 1: Gunakan passive voice untuk menonjolkan objek

Dengan menggunakan passive voice, Anda dapat mengarahkan perhatian pembaca pada objek yang dikenai tindakan, bukan pada pelaku tindakan.

Tip 2: Gunakan passive voice untuk membuat kalimat yang lebih formal

Dalam konteks formal, seperti penulisan akademis atau bisnis, penggunaan passive voice dapat memberikan kesan yang lebih objektif dan tidak memihak.

Tip 3: Gunakan passive voice untuk menghindari menyebutkan pelaku

Terkadang, Anda mungkin ingin menghindari menyebutkan pelaku tindakan karena alasan tertentu. Dalam situasi seperti ini, passive voice dapat menjadi pilihan yang baik.

Tip 4: Gunakan passive voice untuk menyatakan fakta atau peristiwa yang tidak diketahui

Ketika Anda tidak mengetahui atau tidak ingin menyebutkan pelaku tindakan, passive voice dapat digunakan untuk menyatakan fakta atau peristiwa secara umum.

Tip 5: Gunakan passive voice secukupnya

Meskipun passive voice dapat berguna, penggunaannya yang berlebihan dapat membuat tulisan Anda menjadi membosankan dan bertele-tele.

Dengan mengikuti tips ini, Anda dapat meningkatkan penggunaan passive voice dalam tulisan Anda dan membuat tulisan Anda lebih efektif dan sesuai konteks.

Pada bagian selanjutnya, kita akan membahas beberapa contoh penggunaan passive voice dalam konteks penulisan yang berbeda.

Kesimpulan

Kesimpulannya, pemahaman “pengertian passive voice” memberikan pemahaman penting bagi penggunaan bahasa yang efektif. “Passive voice” memungkinkan penekanan pada objek yang menerima tindakan, menjaga formalitas, dan menghindari penyebutan pelaku. Pemahaman yang baik tentang perbedaan antara “passive voice” dan “active voice”, serta penggunaan “passive voice” yang sesuai konteks, akan meningkatkan kualitas tulisan.

Memahami “pengertian passive voice” membuka peluang bagi penulis untuk mengeksplorasi berbagai teknik penulisan dan menyampaikan pesan dengan cara yang lebih jelas dan tepat. Dengan menggunakan “passive voice” secara efektif, penulis dapat mengarahkan perhatian pembaca, menjaga nada formal, dan menyajikan informasi secara lebih objektif.

Related Post